BUSINESS ECONOMIC

pertamina
foto : pertamina

Harga Minyak Dunia Turun, Bisakah Pertamax Kembali ke Rp10.000?

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya sempat melonjak akibat konflik geopolitik dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kondisi ini memunculkan harapan baru di masyarakat: apakah harga Pertamax bisa ikut turun hingga Rp10.000 per liter?

Harapan tersebut cukup masuk akal. Minyak mentah merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan harga bahan bakar minyak. Ketika harga minyak dunia turun, biaya pengadaan energi juga berpeluang ikut berkurang.

Namun, harga Pertamax tidak hanya ditentukan oleh pergerakan minyak mentah.

Harga Pertamax Tidak Mengikuti Minyak Secara Langsung

Harga BBM nonsubsidi mengacu pada harga produk jadi di pasar internasional, bukan hanya harga minyak mentah. Pemerintah menggunakan harga publikasi seperti Mean of Platts Singapore atau MOPS sebagai salah satu komponen perhitungan.

Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga sangat berpengaruh. Transaksi minyak dan produk BBM dunia menggunakan dolar. Jadi, meskipun minyak turun, biaya pengadaan bisa tetap tinggi apabila rupiah masih melemah.

Kementerian PU Siapkan Tol Fungsional untuk Dukung Mobilitas Akhir 2026

Harga jual juga memperhitungkan biaya penyimpanan, pengangkutan, distribusi ke SPBU, margin badan usaha, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

Karena itu, penurunan harga minyak sebesar 38 persen tidak berarti harga Pertamax otomatis turun dengan persentase yang sama.

Pertamax ke Rp10.000 Butuh Penurunan Besar

Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax di wilayah Jakarta naik menjadi Rp16.250 per liter. Agar kembali ke angka Rp10.000, harga tersebut harus turun sekitar Rp6.250 per liter atau lebih dari 38 persen.

Penurunan sebesar itu membutuhkan lebih dari sekadar koreksi harga minyak selama beberapa hari. Harga minyak harus bertahan rendah dalam periode perhitungan, rupiah perlu menguat, dan biaya produk BBM internasional juga harus ikut turun.

Penyesuaian harga biasanya tidak berlangsung secara instan. Badan usaha perlu menghitung rata-rata harga pada periode tertentu. Artinya, penurunan minyak hari ini belum tentu langsung terlihat pada harga di SPBU besok pagi.

Bahlil Ultimatum PLN, Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa Harus Segera Diatasi

Ekonomi Global Ikut Menentukan

Faktor ekonomi global juga memiliki pengaruh besar. Ketegangan di Timur Tengah, kondisi Selat Hormuz, kebijakan produksi negara-negara OPEC+, serta gangguan jalur pelayaran dapat kembali mendorong harga minyak naik.

Kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga perlu diperhatikan. Suku bunga tinggi dapat memperkuat dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Jika dolar menguat, biaya impor energi Indonesia bisa tetap mahal meski harga minyak turun.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi global dapat menurunkan permintaan energi dan membuat harga minyak terus melemah. Kondisi ini bisa memperbesar ruang bagi Pertamina untuk menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.

Apakah Pertamax Bisa Turun?

Peluang harga Pertamax turun tetap ada. Pemerintah juga menyatakan bahwa BBM nonsubsidi dapat disesuaikan ketika harga minyak dunia melemah.

Namun, angka Rp10.000 per liter belum dapat dipastikan dalam waktu dekat. Target tersebut membutuhkan kombinasi harga minyak yang rendah, rupiah yang lebih kuat, kondisi geopolitik yang stabil, serta biaya distribusi yang terkendali.

Limbah Baterai Jadi Masalah Baru, Harus Dibuang ke Mana?

Kesimpulannya, turunnya harga minyak dunia merupakan kabar positif. Namun, perjalanan Pertamax menuju Rp10.000 tidak sesederhana mengikuti grafik minyak mentah.

Masyarakat masih perlu menunggu perkembangan harga energi global, nilai tukar rupiah, dan keputusan resmi penyesuaian harga BBM berikutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan