BUSINESS LIFE STYLE
Beranda / LIFE STYLE / Bermula dari Limbah Rambut Jagung, Dosen UB Ciptakan Sunscreen Ramah Lingkungan

Bermula dari Limbah Rambut Jagung, Dosen UB Ciptakan Sunscreen Ramah Lingkungan

Subtitle 12 1024x538

Rambut jagung biasanya hanya dianggap sebagai limbah pertanian. Setelah jagung dipanen atau diolah, bagian berserat tersebut kerap dibuang karena dinilai tidak memiliki nilai ekonomi. Namun, di tangan peneliti Universitas Brawijaya, limbah sederhana itu berhasil dikembangkan menjadi bahan aktif untuk produk sunscreen.

Inovasi sunscreen dari rambut jagung ini dikembangkan oleh Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya, atau yang akrab disapa Oca, bersama tim peneliti Universitas Brawijaya.

Penelitian tersebut berawal dari kepedulian terhadap banyaknya limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oca melihat bahwa bahan yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih menyimpan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.

Rambut jagung diketahui mengandung senyawa antioksidan, terutama dari kelompok flavonoid dan fenolik. Senyawa tersebut memiliki kemampuan menyerap sinar ultraviolet sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan alami dalam formulasi tabir surya.

Potensi rambut jagung sebagai bahan tabir surya sebenarnya telah diteliti sejak lebih dari satu dekade lalu. Penelitian mengenai senyawa bioaktif rambut jagung dan potensinya sebagai bahan sunscreen telah dipublikasikan oleh tim Universitas Brawijaya sejak 2014.

Di Balik Indahnya “Salju” Dieng, Ada Petani yang Khawatir Gagal Panen

Namun, perjalanan riset tersebut tidak berhenti pada publikasi ilmiah atau prototipe di laboratorium.

Setelah melalui berbagai tahap pengembangan, mulai dari formulasi, pengujian, evaluasi, hingga penyesuaian produk, ekstrak rambut jagung akhirnya berhasil dikembangkan menjadi Hi-To-Go Sun Protector.

Produk sunscreen untuk anak tersebut merupakan bagian dari lini BOUMI, hasil kolaborasi Universitas Brawijaya dengan PT Cedefindo yang berada di bawah Martha Tilaar Group.

Dalam formulasinya, produk tersebut menggabungkan ekstrak rambut jagung atau Zea mays silk extract dengan sejumlah bahan lain, termasuk minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Produk dibuat dalam bentuk semprot agar praktis dan lebih mudah digunakan oleh anak-anak.

Inovasi ini menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat dibawa keluar dari laboratorium dan dikembangkan bersama industri hingga memasuki tahap produksi.

Jaksa Sita 104 Ton Timah dalam Kasus Korupsi IUP PT Timah

Bahan baku rambut jagung juga diperoleh melalui kerja sama dengan petani, terutama di wilayah Pulau Jawa. Dengan pendekatan tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya tidak bernilai dapat memiliki fungsi baru sekaligus membuka peluang tambahan dalam rantai ekonomi lokal.

Pemanfaatan rambut jagung sebagai bahan sunscreen juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Limbah tidak hanya dibuang, tetapi diolah kembali menjadi bahan baku produk yang memiliki manfaat dan nilai jual.

Meski demikian, pengembangan produk berbasis bahan alami tetap membutuhkan proses pengujian yang ketat. Istilah alami tidak otomatis berarti sebuah bahan langsung aman dan efektif digunakan. Formulasi, dosis, stabilitas, keamanan kulit, serta kemampuan perlindungannya tetap harus dibuktikan melalui tahapan penelitian dan pengembangan produk.

Keberhasilan hilirisasi sunscreen rambut jagung menunjukkan pentingnya kerja sama antara akademisi dan industri. Peneliti menghasilkan pengetahuan dan inovasi, sedangkan pihak industri membantu mengembangkan teknologi produksi serta membawa produk kepada masyarakat.

Dari limbah pertanian yang sering diabaikan, rambut jagung kini berubah menjadi bahan bernilai tinggi. Kisah ini membuktikan bahwa inovasi besar tidak selalu berawal dari bahan mahal atau teknologi rumit.

Meta Digugat 4 Negara Bagian AS, Terancam Penalti Rp25 Ribu Triliun karena Dugaan Bikin Anak Kecanduan Medsos

Terkadang, jawabannya justru tersimpan dalam benda sederhana yang setiap hari kita buang tanpa pernah melihat potensinya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan