HEALTH LIFE STYLE
Beranda / LIFE STYLE / Mengenal FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Mengenal FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Woman sitting on couch with coffee and smartphone, enjoying a relaxing break indoors.

Pernah merasa gelisah setelah melihat teman menghadiri acara yang tidak kamu ikuti? Atau terus memeriksa media sosial karena takut melewatkan kabar, tren, maupun kesempatan penting? Perasaan tersebut sering disebut sebagai FOMO.

FOMO merupakan singkatan dari fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman menyenangkan atau berharga yang sedang dialami orang lain. Kondisi ini dapat mendorong seseorang untuk terus terhubung dengan media sosial, meskipun aktivitas tersebut mulai menimbulkan rasa lelah dan tidak nyaman.

Mengapa FOMO Mudah Terjadi?

Media sosial memungkinkan kita melihat berbagai pencapaian, liburan, hubungan, pekerjaan, dan kehidupan sosial orang lain dalam waktu singkat. Masalahnya, unggahan tersebut umumnya hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang.

Saat terus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik, kita dapat merasa kehidupan sendiri berjalan biasa saja. Dari sinilah muncul kekhawatiran bahwa orang lain sedang menikmati lebih banyak kesempatan, sementara kita tertinggal.

FOMO juga dapat muncul karena kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial. Seseorang mungkin mengikuti tren, menghadiri acara, atau membeli barang tertentu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan.

Cara Berhenti Merokok yang Realistis dan Bisa Dimulai Hari Ini

Penelitian menunjukkan FOMO berkaitan dengan proses perbandingan sosial. Semakin sering seseorang membandingkan kehidupannya dengan standar yang terlihat di media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa tidak puas dan penilaian negatif terhadap diri sendiri.

Tanda-Tanda Mengalami FOMO

FOMO bukan diagnosis gangguan mental. Namun, kebiasaan ini perlu diperhatikan apabila mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Beberapa tandanya antara lain terus memeriksa notifikasi, merasa cemas ketika tidak membawa ponsel, sulit menikmati kegiatan karena sibuk mendokumentasikannya, dan merasa kehidupan orang lain selalu lebih menarik.

Seseorang yang mengalami FOMO juga dapat kesulitan menolak ajakan karena takut kehilangan pengalaman penting. Bahkan ketika sedang beristirahat, pikirannya tetap dipenuhi pertanyaan tentang apa yang sedang dilakukan orang lain.

Dampak FOMO terhadap Kesehatan Mental

Apabila berlangsung terus-menerus, FOMO dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, serta penggunaan media sosial yang bermasalah. Kebiasaan memeriksa ponsel sebelum tidur juga dapat membuat waktu istirahat berkurang karena seseorang merasa harus selalu mengikuti informasi terbaru.

Di Balik Indahnya “Salju” Dieng, Ada Petani yang Khawatir Gagal Panen

FOMO juga dapat menurunkan kepuasan terhadap hidup. Perhatian yang terlalu besar pada pengalaman orang lain membuat seseorang sulit menghargai hal-hal yang sedang dimilikinya.

Dalam jangka panjang, perbandingan sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kepercayaan diri. Seseorang mungkin merasa kurang sukses, kurang menarik, atau tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan, padahal penilaian tersebut hanya didasarkan pada potongan kehidupan orang lain di internet.

Cara Mengendalikan FOMO

Langkah pertama adalah menyadari bahwa media sosial tidak menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Setiap orang memiliki masalah dan kegagalan yang mungkin tidak mereka tampilkan.

Batasi waktu penggunaan media sosial, terutama setelah bangun tidur dan menjelang tidur. Matikan notifikasi yang tidak penting dan berhenti mengikuti akun yang terus-menerus membuatmu merasa rendah diri.

Cobalah mengarahkan perhatian pada kegiatan yang sedang dijalani. Saat berkumpul bersama keluarga atau teman, nikmati percakapan tanpa harus terus memeriksa ponsel.

Meta Digugat 4 Negara Bagian AS, Terancam Penalti Rp25 Ribu Triliun karena Dugaan Bikin Anak Kecanduan Medsos

Kamu juga dapat mencatat hal-hal sederhana yang patut disyukuri. Kebiasaan ini membantu mengalihkan fokus dari kehidupan orang lain menuju pengalaman dan kemajuan diri sendiri.

FOMO menjadi masalah ketika rasa takut tertinggal membuat seseorang tidak mampu menikmati hidupnya saat ini. Tidak mengikuti semua tren bukan berarti gagal. Terkadang, memilih berhenti sejenak justru membantu kita memahami hal yang benar-benar penting.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan