Pernah merasa sangat lelah setiap kali memikirkan pekerjaan? Akhir pekan sudah digunakan untuk beristirahat, tetapi pada Senin pagi tubuh tetap terasa berat. Semangat bekerja menghilang, tugas sederhana terasa melelahkan, dan komunikasi dari kantor mulai membuat emosi mudah terpancing.
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda burnout. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, burnout merupakan fenomena terkait pekerjaan yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout bukan diklasifikasikan sebagai penyakit atau diagnosis medis tersendiri.
Burnout Bukan Sekadar Lelah Biasa
Kelelahan biasa umumnya membaik setelah seseorang tidur cukup, berlibur, atau mengurangi aktivitas. Burnout berbeda karena rasa lelahnya dapat bertahan lama dan disertai perubahan cara seseorang memandang pekerjaannya.
WHO menjelaskan burnout melalui tiga ciri utama. Pertama, energi terasa terkuras atau tubuh mengalami kelelahan berkepanjangan. Kedua, muncul jarak mental terhadap pekerjaan, termasuk perasaan negatif atau sinis. Ketiga, kemampuan dan efektivitas dalam bekerja mulai menurun.
Seseorang yang mengalaminya mungkin menjadi sulit berkonsentrasi, sering menunda pekerjaan, kehilangan motivasi, mudah marah, atau merasa hasil kerjanya tidak pernah cukup baik. Bahkan, membuka pesan dari atasan atau melihat daftar tugas dapat memunculkan rasa cemas dan tertekan.
Mengapa Burnout Bisa Terjadi?
Burnout tidak selalu disebabkan oleh seseorang yang kurang mampu mengelola stres. Lingkungan dan sistem kerja juga berperan besar.
Risikonya dapat meningkat ketika pekerja menghadapi beban berlebihan, jam kerja panjang, tugas yang tidak jelas, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, hubungan buruk dengan rekan atau atasan, serta minimnya dukungan. Ketidakamanan kerja, diskriminasi, perundungan, dan budaya organisasi yang tidak sehat juga dapat mengganggu kesehatan mental pekerja. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Karena itu, solusi burnout tidak cukup hanya dengan menyuruh pekerja beristirahat, mengambil cuti, atau berpikir lebih positif. Seseorang bisa kembali ke kondisi yang sama apabila sumber tekanannya tidak diperbaiki.
Cara Menghadapi Burnout
Langkah pertama adalah mengenali bagian pekerjaan yang paling menguras energi. Apakah penyebabnya jumlah tugas, konflik dengan atasan, tenggat yang tidak realistis, atau sulitnya memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi?
Setelah mengetahui pemicunya, buat batas yang lebih jelas. Tentukan waktu berhenti bekerja, kurangi kebiasaan memeriksa pesan kantor sebelum tidur, dan susun prioritas berdasarkan kemampuan yang realistis.
Apabila beban kerja sudah terlalu berat, komunikasikan kondisi tersebut kepada atasan. Pembicaraan dapat difokuskan pada pembagian tugas, prioritas pekerjaan, tenggat, atau dukungan yang dibutuhkan. WHO merekomendasikan perbaikan organisasi, pelatihan manajer, dukungan bagi pekerja, serta pengurangan risiko psikososial sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan mental di tempat kerja.
Tidur cukup, aktivitas fisik, waktu bersama orang terdekat, dan melakukan kegiatan di luar pekerjaan juga dapat membantu proses pemulihan. Namun, pemulihan biasanya membutuhkan waktu dan tidak selalu selesai hanya dengan satu kali liburan.
Apabila kelelahan terus berlangsung, mengganggu tidur, menurunkan kemampuan menjalani aktivitas, atau disertai kecemasan dan perasaan putus asa, pertimbangkan mencari bantuan psikolog atau psikiater.
Burnout bukan tanda bahwa seseorang malas atau lemah. Kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa tuntutan yang dihadapi sudah lebih besar daripada energi, waktu, dan dukungan yang tersedia.


Komentar