HEALTH LIFE STYLE
Beranda / LIFE STYLE / Doomscrolling: Kenapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk?

Doomscrolling: Kenapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk?

Close-up of a person interacting with a smartphone, captured indoors in a casual setting.

Pernah berniat membuka media sosial hanya untuk melihat satu berita, tetapi tanpa sadar terus menggulir layar selama berjam-jam? Semakin banyak berita buruk yang dibaca, semakin cemas rasanya. Namun, tangan tetap terdorong untuk mencari informasi berikutnya.

Kebiasaan tersebut dikenal sebagai doomscrolling, yaitu perilaku mengonsumsi berita negatif secara berulang dan sulit dihentikan meskipun sudah menimbulkan rasa takut, stres, atau kelelahan mental.

Doomscrolling semakin mudah terjadi ketika dunia sedang dipenuhi kabar mengenai konflik, bencana alam, krisis ekonomi, wabah penyakit, kriminalitas, hingga ketidakpastian politik.

Lalu, mengapa kita sulit berhenti membaca berita buruk?

Otak Lebih Peka terhadap Ancaman

Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih cepat memperhatikan informasi negatif dibandingkan informasi positif. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias.

Cara Berhenti Merokok yang Realistis dan Bisa Dimulai Hari Ini

Pada masa lalu, kemampuan mengenali ancaman membantu manusia bertahan hidup. Namun, dalam lingkungan digital, sistem kewaspadaan tersebut dapat membuat kita terus mencari informasi buruk dengan harapan menemukan kepastian atau cara melindungi diri.

Masalahnya, berita yang dikonsumsi tidak selalu memberikan jawaban. Setiap informasi justru dapat memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran baru.

Kita Ingin Mengurangi Ketidakpastian

Doomscrolling sering muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali atas suatu keadaan.

Saat terjadi krisis, kita mungkin berpikir bahwa semakin banyak informasi yang dibaca, semakin siap pula kita menghadapi kemungkinan buruk. Membaca berita kemudian memberikan rasa aman sementara karena kita merasa sedang melakukan sesuatu.

Namun, ketika informasi yang ditemukan terus berubah, saling bertentangan, atau semakin mengkhawatirkan, rasa cemas justru meningkat. Untuk mengurangi kecemasan tersebut, kita kembali mencari berita lain. Siklus ini kemudian terus berulang.

Di Balik Indahnya “Salju” Dieng, Ada Petani yang Khawatir Gagal Panen

Algoritma Membuat Kita Terus Menggulir

Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Fitur infinite scroll membuat halaman seolah tidak pernah habis, sedangkan algoritma merekomendasikan konten berdasarkan perilaku sebelumnya.

Jika seseorang sering berhenti pada berita konflik atau bencana, sistem dapat menampilkan lebih banyak konten serupa. Akibatnya, dunia di dalam layar terlihat jauh lebih gelap daripada kondisi yang sebenarnya.

Judul yang dramatis dan penuh ancaman juga lebih mudah memancing rasa penasaran. Kita akhirnya terus membaca bukan karena merasa nyaman, tetapi karena takut melewatkan perkembangan penting.

Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara doomscrolling dan meningkatnya tekanan psikologis, kecemasan, stres, serta menurunnya kesejahteraan mental.

Paparan berita negatif secara terus-menerus juga dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, merasa tidak berdaya, dan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sosialnya.

Meta Digugat 4 Negara Bagian AS, Terancam Penalti Rp25 Ribu Triliun karena Dugaan Bikin Anak Kecanduan Medsos

Apabila dilakukan menjelang tidur, kebiasaan menggulir layar dapat membuat waktu tidur mundur. Pikiran juga tetap berada dalam kondisi waspada sehingga tubuh lebih sulit beristirahat.

Namun, penting dipahami bahwa banyak penelitian mengenai doomscrolling masih bersifat korelasional. Artinya, doomscrolling dapat berkaitan dengan kecemasan, tetapi orang yang sejak awal lebih cemas juga mungkin lebih mudah terjebak membaca berita buruk.

Cara Menghentikan Doomscrolling

Langkah pertama adalah menyadari kapan kegiatan mencari informasi sudah berubah menjadi kebiasaan kompulsif.

Tentukan waktu khusus untuk membaca berita, misalnya dua kali sehari selama 15 menit. Hindari memeriksa berita tepat setelah bangun tidur atau sebelum tidur.

Matikan notifikasi yang tidak penting, berhenti mengikuti akun yang terlalu sering menggunakan judul provokatif, dan pilih beberapa sumber tepercaya daripada membaca informasi yang sama dari puluhan akun.

Saat mulai merasa cemas, letakkan ponsel dan lakukan aktivitas yang mengembalikan perhatian ke keadaan sekitar. Berjalan sebentar, menarik napas perlahan, berbicara dengan orang lain, atau mengerjakan sesuatu yang dapat dikendalikan membantu memutus siklus tersebut.

Mengikuti berita tetap penting. Namun, kita tidak harus mengetahui setiap perkembangan dalam setiap menit.

Tujuannya bukan menghindari kenyataan, melainkan menjaga agar informasi tidak mengambil alih kesehatan mental dan kehidupan sehari-hari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan