Penggunaan ponsel, tablet, laptop, dan perangkat digital kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak memakai layar untuk belajar dan bermain, sementara orang dewasa menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, hingga mencari hiburan.
Namun, sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Network Open menyoroti hubungan antara screen time dan risiko miopia atau rabun jauh. Temuan ini memunculkan pertanyaan: apakah tambahan satu jam menatap layar benar-benar bisa “menabung” mata minus?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Screen time tidak otomatis membuat ukuran minus bertambah dalam satu jam. Namun, semakin lama seseorang menatap layar setiap hari, peluang mengalami miopia memang ditemukan lebih tinggi.
Studi Libatkan Lebih dari 335 Ribu Peserta
Penelitian tersebut merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 45 studi dengan total 335.524 peserta.
Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan satu jam screen time per hari dikaitkan dengan peluang miopia sekitar 21% lebih tinggi.
Penelitian juga menemukan pola peningkatan risiko seiring bertambahnya waktu layar. Pada paparan sekitar empat jam per hari, peluang miopia ditemukan hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan paparan lebih rendah.
Meski begitu, angka tersebut tidak berarti seseorang yang bermain HP selama satu jam pasti langsung mengalami mata minus. Temuan ini menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa layar menjadi satu-satunya penyebab.
Kenapa Screen Time Berkaitan dengan Miopia?
Saat menatap layar, mata bekerja dalam jarak dekat untuk waktu yang lama. Kebiasaan fokus jarak dekat tanpa jeda diduga ikut berperan dalam perkembangan miopia, terutama pada anak-anak yang matanya masih tumbuh.
Selain itu, screen time yang tinggi sering membuat waktu bermain di luar ruangan berkurang. Padahal, paparan cahaya alami dan aktivitas luar ruangan diketahui berkaitan dengan risiko miopia yang lebih rendah pada anak.
Faktor genetik juga tetap berpengaruh. Anak dengan orang tua yang mengalami miopia memiliki risiko lebih tinggi. Karena itu, screen time bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan.
Jarak layar yang terlalu dekat, pencahayaan buruk, kebiasaan membaca sambil tiduran, dan kurangnya waktu di luar rumah juga dapat menambah beban pada mata.
Bukan Cuma Mata Minus
Penggunaan layar terlalu lama juga dapat menimbulkan keluhan lain, seperti mata kering, perih, pandangan kabur sementara, sakit kepala, dan sulit fokus.
Keluhan tersebut sering disebut sebagai digital eye strain atau ketegangan mata akibat layar. Kondisi ini umumnya terjadi karena seseorang lebih jarang berkedip saat menatap layar, sehingga permukaan mata menjadi kering.
Berbeda dengan miopia, digital eye strain biasanya bersifat sementara dan dapat membaik setelah mata beristirahat.
Cara Mengurangi Risiko
Screen time tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya, terutama karena banyak aktivitas belajar dan bekerja bergantung pada perangkat digital. Namun, durasinya tetap bisa dikendalikan.
Gunakan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke benda sejauh sekitar enam meter selama 20 detik.
Jaga jarak layar, gunakan pencahayaan yang cukup, dan hindari menatap ponsel terlalu dekat dengan wajah.
Untuk anak-anak, perbanyak aktivitas di luar ruangan. Studi lain di JAMA Network Open menemukan bahwa paparan luar ruangan dengan durasi berkelanjutan berkaitan dengan perubahan miopia yang lebih rendah pada anak.
Kesimpulan
Screen time satu jam tidak langsung membuat mata minus. Namun, penelitian menunjukkan bahwa setiap tambahan satu jam waktu layar per hari berkaitan dengan risiko miopia yang lebih tinggi.
Karena itu, istilah “nabung mata minus” memang menarik untuk menggambarkan risikonya, tetapi tidak boleh dipahami secara harfiah.
Yang paling penting adalah menjaga durasi layar, memberi waktu istirahat pada mata, memperbanyak aktivitas luar ruangan, dan melakukan pemeriksaan mata jika penglihatan mulai terasa buram.
Sourch : JAMA Network Open


Komentar