Diabetes tipe 2 pada anak kini mulai menjadi perhatian serius. Penyakit yang dulu lebih identik dengan orang dewasa, terutama usia 40 tahun ke atas, sekarang sudah ditemukan pada remaja, bahkan anak usia SMP.
Perubahan ini menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 tidak lagi hanya berkaitan dengan usia. Faktor keturunan memang tetap berpengaruh, tetapi gaya hidup modern ikut memainkan peran besar dalam meningkatkan risiko sejak usia muda.
Kementerian Kesehatan menyebut pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, terlalu lama duduk, serta kebiasaan mengonsumsi makanan olahan menjadi beberapa faktor yang perlu diwaspadai.
Kenapa Diabetes Tipe 2 Bisa Terjadi pada Anak?
Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak lagi menggunakan insulin secara efektif. Kondisi ini membuat kadar gula dalam darah meningkat dan sulit dikontrol.
Pada anak dan remaja, risikonya dapat bertambah ketika tubuh jarang bergerak dan terlalu banyak menerima kalori dari makanan atau minuman tinggi gula.
Minuman berpemanis menjadi salah satu sumber gula yang sering dikonsumsi tanpa disadari. Teh kemasan, minuman bersoda, kopi susu, minuman energi, hingga berbagai minuman kekinian bisa mengandung gula dalam jumlah tinggi.
Jika dikonsumsi terlalu sering tanpa diimbangi aktivitas fisik, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan berat badan dan memperbesar risiko resistensi insulin.
Screen time yang terlalu panjang juga bisa ikut memperburuk keadaan. Anak yang lebih banyak duduk sambil bermain gim, menonton video, atau menggunakan media sosial biasanya memiliki waktu bergerak yang lebih sedikit.
Kurang tidur pun dapat memengaruhi pola makan, nafsu makan, dan pengaturan gula darah dalam tubuh.
Diabetes Usia Muda Bisa Lebih Agresif
Diabetes tipe 2 pada anak bukan masalah ringan. Studi TODAY yang mengikuti penderita diabetes sejak masa remaja menemukan sekitar 60,1% peserta telah mengalami sedikitnya satu komplikasi saat memasuki usia dewasa muda.
Sekitar 28,4% peserta bahkan mengalami dua komplikasi atau lebih.
Komplikasi tersebut dapat menyerang ginjal, mata, saraf, tekanan darah, dan pembuluh darah. Karena penyakit muncul lebih awal, tubuh harus menghadapi kadar gula darah tinggi dalam waktu yang lebih panjang.
Hal inilah yang membuat diabetes tipe 2 pada usia muda dapat memberikan dampak lebih serius jika tidak dikendalikan sejak awal.
Namun, penting dipahami bahwa anak yang suka makanan manis tidak otomatis terkena diabetes. Risiko biasanya meningkat ketika konsumsi gula berlebihan berlangsung terus-menerus dan disertai kurang gerak, obesitas, serta riwayat diabetes dalam keluarga.
Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Harian
Pencegahan diabetes tipe 2 pada anak perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama rumah dan sekolah.
Orang tua dapat membatasi minuman berpemanis, menyediakan makanan yang lebih seimbang, serta membiasakan anak bergerak setiap hari. Aktivitasnya tidak harus selalu berupa olahraga berat. Berjalan kaki, bersepeda, bermain di luar, atau membantu kegiatan rumah juga bermanfaat.
Waktu penggunaan gawai juga perlu diatur agar tidak menggantikan aktivitas fisik dan waktu tidur.
Selain itu, anak dengan berat badan berlebih atau riwayat keluarga diabetes sebaiknya mendapat perhatian lebih. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan jika muncul gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, berat badan berubah, atau luka sulit sembuh.
Kesimpulannya, diabetes tipe 2 pada anak menjadi tanda bahwa pola hidup generasi muda perlu diperhatikan lebih serius.
Pencegahan tidak harus menunggu gejala muncul. Kebiasaan kecil seperti mengurangi minuman manis, lebih banyak bergerak, tidur cukup, dan menjaga berat badan dapat menjadi perlindungan penting sejak dini.


Komentar