Fenomena mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris semakin mudah ditemukan dalam percakapan anak muda. Ungkapan seperti “jujurly”, “relate banget”, “lagi burnout”, hingga penggunaan kata “which is” di tengah kalimat kini terdengar akrab, terutama di media sosial dan lingkungan perkotaan.
Gaya bicara tersebut sering disebut sebagai “Bahasa Anak Jaksel”. Namun, penggunaannya kini tidak lagi terbatas pada anak muda yang tinggal di Jakarta Selatan. Tren ini telah menyebar ke berbagai daerah melalui TikTok, Instagram, YouTube, film, musik, gim, hingga budaya kerja perusahaan modern.
Lalu, mengapa anak muda Indonesia sering mencampurkan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari?
Salah satu alasannya adalah kepraktisan. Beberapa istilah bahasa Inggris dianggap lebih ringkas dan mampu menyampaikan emosi atau situasi tertentu dengan lebih tepat.
Kata “burnout”, misalnya, tidak hanya berarti lelah. Istilah tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan yang berlangsung lama. Begitu pula dengan kata “cringe”, “relatable”, “deadline”, dan “healing” yang memiliki nuansa tertentu ketika digunakan dalam percakapan santai.
Apabila diterjemahkan secara langsung ke bahasa Indonesia, beberapa kata tersebut terkadang terasa terlalu formal atau kurang sesuai dengan konteks pembicaraan. Karena itulah, istilah bahasa Inggris menjadi jalan pintas untuk menyampaikan maksud secara cepat.
Paparan konten digital juga memegang peran besar. Generasi muda tumbuh dengan akses terhadap berbagai konten internasional. Mereka terbiasa mendengar bahasa Inggris melalui lagu, serial, podcast, permainan daring, serta unggahan kreator dari berbagai negara.
Ketika sebuah kata terus didengar dan digunakan, kata tersebut dapat tersimpan dalam ingatan dan muncul secara spontan saat berbicara. Akibatnya, percampuran bahasa bukan selalu dilakukan untuk terlihat keren, melainkan dapat muncul sebagai kebiasaan alami.
Dalam ilmu bahasa, fenomena ini dikenal sebagai code-mixing atau campur kode. Kondisi tersebut terjadi ketika seseorang menggunakan unsur dari dua bahasa atau lebih dalam satu percakapan.
Selain menjadi alat komunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai penanda identitas. Penggunaan istilah asing dapat membuat seseorang merasa lebih dekat dengan kelompok pergaulan tertentu, terlihat modern, atau menjadi bagian dari komunitas global.
Bagi sebagian anak muda, gaya bicara campuran juga digunakan untuk menciptakan humor, keakraban, dan ekspresi yang terasa lebih santai. Ungkapan seperti “ini tuh not my vibe” atau “which is sebenarnya tidak perlu” sering dipakai karena terdengar ringan dan mudah dipahami oleh kelompoknya.
Meski demikian, penggunaan bahasa campuran tetap perlu disesuaikan dengan situasi. Gaya bahasa santai mungkin cocok digunakan bersama teman atau melalui media sosial, tetapi belum tentu tepat dalam surat resmi, kegiatan akademik, wawancara kerja, dan komunikasi pemerintahan.
Kemampuan berbahasa tidak hanya diukur dari banyaknya istilah asing yang digunakan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan memilih bahasa sesuai dengan lawan bicara, tujuan, dan tempat percakapan berlangsung.
Fenomena “which is” tidak selalu menunjukkan bahwa anak muda tidak mencintai bahasa Indonesia. Sebaliknya, fenomena tersebut dapat dilihat sebagai bukti bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat.
Namun, kreativitas berbahasa tetap perlu diimbangi dengan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan jelas. Anak muda boleh mengikuti perkembangan bahasa global, selama tetap memahami kapan harus berbicara santai dan kapan perlu menggunakan bahasa yang formal.
Pada akhirnya, persoalannya bukan memilih bahasa Indonesia atau Inggris. Tantangannya adalah mampu menggunakan keduanya secara tepat tanpa kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan jelas.


Komentar