LIFE STYLE
Beranda / LIFE STYLE / Biaya Visa Jepang Naik Lima Kali Lipat Mulai Juli 2026

Biaya Visa Jepang Naik Lima Kali Lipat Mulai Juli 2026

Gambar Jepang gunung fuji
Gambar Jepang gunung fuji

Biaya visa Jepang naik hingga lima kali lipat mulai Juli 2026. Kebijakan ini menjadi perubahan tarif visa pertama dalam hampir 48 tahun, setelah biaya layanan tersebut tidak mengalami penyesuaian besar sejak 1978.

Pemerintah Jepang menyebut kenaikan biaya visa dilakukan untuk menyesuaikan tarif dengan kondisi ekonomi saat ini. Inflasi, perubahan nilai tukar, pelemahan yen, serta biaya administrasi yang terus meningkat menjadi alasan utama di balik kebijakan tersebut.

Bagi wisatawan yang masih membutuhkan visa untuk masuk ke Jepang, kenaikan ini tentu perlu diperhitungkan sejak awal. Biaya perjalanan ke Jepang tidak lagi hanya soal tiket pesawat, penginapan, transportasi, dan konsumsi, tetapi juga biaya pengajuan visa yang jauh lebih mahal dibanding sebelumnya.

Rincian Kenaikan Biaya Visa Jepang

Tarif visa sekali masuk atau single-entry visa naik dari 3.000 yen menjadi 15.000 yen.

Jika menggunakan perkiraan kurs sekitar Rp111 per yen, biaya tersebut berubah dari sekitar Rp333 ribu menjadi kurang lebih Rp1,6 juta. Artinya, tarif visa sekali masuk benar-benar naik sekitar lima kali lipat.

Di Balik Indahnya “Salju” Dieng, Ada Petani yang Khawatir Gagal Panen

Kenaikan serupa juga berlaku untuk visa multiple-entry. Tarif yang sebelumnya sebesar 6.000 yen naik menjadi 30.000 yen.

Dalam rupiah, biayanya meningkat dari sekitar Rp665 ribu menjadi kurang lebih Rp3,3 juta. Namun, nilai tersebut masih berupa estimasi karena kurs yen terhadap rupiah dapat berubah setiap saat.

Selain itu, biaya yang dibayarkan pemohon juga bisa berbeda tergantung kebijakan kedutaan, kewarganegaraan, jenis visa, dan layanan tambahan dari pusat aplikasi visa.

Mengapa Biaya Visa Jepang Naik?

Pemerintah Jepang menilai tarif lama sudah tidak sesuai dengan biaya pelayanan saat ini.

Selama puluhan tahun, Jepang menghadapi kenaikan biaya operasional, kebutuhan sistem administrasi yang lebih modern, inflasi, serta perubahan nilai tukar. Karena tarif tidak berubah sejak 1978, pemerintah akhirnya melakukan penyesuaian besar sekaligus.

Meta Digugat 4 Negara Bagian AS, Terancam Penalti Rp25 Ribu Triliun karena Dugaan Bikin Anak Kecanduan Medsos

Kenaikan tarif ini juga diumumkan ketika jumlah wisatawan asing ke Jepang terus meningkat. Popularitas Jepang sebagai destinasi wisata mendorong lonjakan kunjungan ke kota-kota seperti Tokyo, Kyoto, Osaka, serta kawasan Gunung Fuji.

Peningkatan wisatawan tersebut ikut memunculkan persoalan overtourism. Beberapa destinasi menghadapi kepadatan, tekanan terhadap fasilitas umum, gangguan bagi warga lokal, serta kebutuhan pengelolaan wisata yang lebih besar.

Meski demikian, pemerintah Jepang menegaskan bahwa kenaikan biaya visa bukan kebijakan untuk membatasi jumlah wisatawan.

Kenaikan tersebut lebih diarahkan untuk menyesuaikan tarif dengan biaya layanan dan kondisi ekonomi yang telah berubah selama beberapa dekade.

Tidak Berlaku untuk Semua Wisatawan

Perlu diketahui bahwa kenaikan biaya visa Jepang tidak berlaku untuk semua orang.

Wellness Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda, Bukan Sekadar Tren Sehat

Wisatawan dari negara yang memiliki perjanjian bebas visa dengan Jepang tetap dapat masuk tanpa mengajukan visa, selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

Sementara bagi wisatawan dari negara yang masih membutuhkan visa, tarif baru akan berlaku untuk permohonan yang diajukan mulai Juli 2026.

Karena itu, calon wisatawan perlu memeriksa aturan visa berdasarkan kewarganegaraan, tujuan perjalanan, serta lama tinggal sebelum mengajukan permohonan.

Biaya Perjalanan ke Jepang Perlu Disiapkan Lebih Besar

Biaya visa Jepang naik menjadi salah satu komponen tambahan yang harus diperhitungkan wisatawan.

Bagi pemohon single-entry, biaya visa diperkirakan mencapai sekitar Rp1,6 juta. Sementara pemohon multiple-entry perlu menyiapkan sekitar Rp3,3 juta.

Jumlah tersebut belum termasuk biaya layanan pusat aplikasi visa, pengiriman dokumen, asuransi perjalanan, dan kebutuhan administrasi lainnya.

Jadi, siapa pun yang berencana pergi ke Jepang setelah Juli 2026 sebaiknya mulai menghitung ulang anggaran perjalanan. Kenaikan biaya visa memang bukan untuk membatasi wisatawan, tetapi tetap membuat biaya liburan ke Jepang menjadi lebih mahal.

Sourch: Ministry of Foreign Affairs Japan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan