Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Penurunan ini membawa harga minyak semakin mendekati level sebelum konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran meningkat.
Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 40 sen AS atau sekitar 0,54% menjadi US$73,34 per barel pada pukul 00.04 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI Amerika Serikat turun 27 sen AS atau 0,38% menjadi US$70,07 per barel.
Pelemahan harga minyak terjadi setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai kembali mendekati kondisi normal. Kapal-kapal yang sebelumnya sempat tertahan kini mulai keluar dari kawasan tersebut, menyusul kesepakatan awal penghentian konflik di Timur Tengah.
Perkembangan ini membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mulai mereda.
Selat Hormuz Kembali Ramai Dilalui Kapal Tanker
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia. Gangguan di kawasan ini dapat langsung memengaruhi harga energi global karena sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati jalur tersebut.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyebut sekitar 20 juta barel minyak telah keluar melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Beberapa kapal tanker yang sebelumnya tertahan juga mulai kembali berlayar, meski lalu lintas belum sepenuhnya pulih seperti sebelum konflik.
Normalnya kembali pergerakan kapal membuat pasar memperkirakan pasokan minyak dari Timur Tengah dapat pulih lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.
Pasar Mulai Melihat Pasokan Jangka Pendek Melimpah
Sinyal lain terlihat dari pergerakan kontrak minyak Brent.
Kontrak Brent untuk pengiriman Agustus diperdagangkan di bawah harga kontrak September yang berada di sekitar US$73,59 per barel.
Kondisi ketika kontrak jangka lebih dekat lebih murah daripada kontrak bulan berikutnya sering disebut sebagai contango. Situasi ini dapat menunjukkan bahwa pasokan minyak dalam waktu dekat dinilai cukup melimpah.
Reuters melaporkan sekitar 20 juta barel minyak kembali keluar dari kawasan Teluk dalam sehari, termasuk sejumlah kapal yang sebelumnya tertahan. Peningkatan aliran tersebut ikut menekan harga minyak fisik dan kontrak berjangka.
Penurunan Harga Mengejutkan Pasar
Analis IG Tony Sycamore mengatakan kecepatan penurunan harga minyak mengejutkan banyak pelaku pasar.
Investor kini memperkirakan pasokan minyak dari Timur Tengah akan kembali ke pasar lebih cepat daripada yang dibayangkan sekitar dua pekan sebelumnya.
Pada perdagangan Rabu, harga Brent telah jatuh lebih dari US$3 per barel. WTI juga ditutup turun hampir US$3 setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan terus berkurang.
Penurunan tersebut membawa harga minyak mendekati posisi sebelum ketegangan dengan Iran meningkat.
Apa Dampaknya bagi Ekonomi?
Harga minyak dunia yang lebih rendah dapat membantu menekan biaya energi, transportasi, dan logistik. Negara pengimpor minyak juga berpotensi mendapat tekanan inflasi yang lebih ringan.
Namun, penurunan harga minyak belum tentu langsung membuat harga bahan bakar di dalam negeri ikut turun. Harga BBM juga dipengaruhi nilai tukar, pajak, subsidi, biaya distribusi, serta kebijakan masing-masing negara.
Di sisi lain, kondisi Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil. Jalur utama Selat Hormuz memang mulai kembali aktif, tetapi risiko keamanan dan gangguan baru tetap bisa memengaruhi harga sewaktu-waktu.
Jadi, penurunan harga minyak saat ini lebih banyak dipicu oleh membaiknya ekspektasi pasokan. Selama kapal tanker tetap dapat berlayar dan konflik tidak kembali memburuk, harga minyak berpeluang bertahan lebih rendah.
SC | Reuters


Komentar