Usia 20-an sering digambarkan sebagai masa paling bebas dalam hidup. Banyak orang mengira fase ini adalah waktu untuk menikmati hidup, mengejar mimpi, membangun karier, dan mulai menentukan arah masa depan. Namun, kenyataannya tidak selalu seindah itu. Di balik senyum dan unggahan media sosial, banyak anak muda justru sedang merasa bingung, tertinggal, dan tidak tahu harus melangkah ke mana.
Kondisi ini sering disebut quarter life crisis, yaitu fase ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidup, pilihan karier, hubungan, pencapaian, hingga masa depannya sendiri. Biasanya, fase ini banyak dialami oleh orang di usia awal 20-an sampai awal 30-an. Penelitian tentang quarter life crisis menyebut bahwa masa dewasa awal memang sering dipenuhi ketidakpastian, terutama soal karier, hubungan asmara, dan pencapaian hidup.
Salah satu penyebab terbesar quarter life crisis adalah tekanan sosial. Di usia yang sama, ada teman yang sudah punya pekerjaan mapan, menikah, membeli rumah, membuka bisnis, atau terlihat sukses di media sosial. Dari situ, seseorang mulai membandingkan hidupnya sendiri dengan hidup orang lain. Akhirnya muncul pikiran seperti, “Kenapa aku belum jadi apa-apa?” atau “Apa aku gagal dibanding mereka?”
Padahal, setiap orang punya garis waktu hidup yang berbeda. Ada yang cepat menemukan jalannya, ada juga yang butuh waktu lebih lama. Masalahnya, media sosial sering membuat proses hidup orang lain terlihat lebih sempurna daripada kenyataan. Yang terlihat hanya pencapaian, bukan perjuangan, kegagalan, atau rasa takut yang mereka sembunyikan.
Quarter life crisis juga bisa muncul karena tuntutan keluarga dan lingkungan. Anak muda sering dituntut segera mandiri secara finansial, punya karier jelas, dan membuat keputusan besar dalam hidup. Di satu sisi, mereka ingin memenuhi harapan orang tua. Di sisi lain, mereka juga ingin mengejar pilihan hidup sendiri. Benturan inilah yang membuat banyak orang merasa tertekan.
Dampaknya tidak boleh diremehkan. Seseorang yang mengalami fase ini bisa merasa cemas, sulit tidur, kehilangan motivasi, mudah lelah, merasa tidak cukup baik, bahkan menarik diri dari lingkungan. WHO menjelaskan bahwa kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi tekanan hidup, menyadari kemampuan diri, belajar, bekerja, dan berkontribusi dalam lingkungannya.
Namun, quarter life crisis bukan berarti hidup sudah gagal. Justru, fase ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang mulai mengenali dirinya lebih dalam. Rasa bingung bisa menjadi awal untuk mengevaluasi kembali tujuan hidup, kebiasaan, lingkungan, dan pilihan yang selama ini dijalani.
Cara menghadapinya bisa dimulai dari hal sederhana. Kurangi membandingkan diri dengan orang lain. Fokus pada progres kecil yang bisa dilakukan hari ini. Tulis hal-hal yang membuat cemas, lalu pisahkan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Berbicara dengan teman, keluarga, mentor, atau tenaga profesional juga bisa membantu meringankan beban pikiran.
Pada akhirnya, usia 20-an bukan perlombaan siapa yang paling cepat sukses. Ini adalah fase mencari arah, belajar dari salah langkah, dan membangun pondasi hidup. Tidak apa-apa merasa bingung, asal jangan berhenti bergerak. Kadang, hidup memang tidak langsung jelas, tapi pelan-pelan kita bisa menemukan jalannya.


Komentar